PROPOSAL SKRIPSI (STAI) BREBES


.

MODEL PENDIDKAN MASYARAKAT SUKU BADUY LUAR

DESA KANEKES KECAMATAN LEWIDAMAR

KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN


Proposal Skripsi

Diajukan Untuk Mengikuti Seminar Proposal Skripsi

Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam

Jurusan Tarbiyah STAI Brebes


Oleh :

Imam Abdul Muta’ali

NIM : 09.01.1549

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

(STAI) BREBES

2012/1432 H


MODEL PENDIDKAN MASYARAKAT SUKU BADUY DESA KANEKES KECAMATAN LEWIDAMAR KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN

A. Latar Belakang Masalah

Secara umum pendidikan memiliki berbagai model yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi, tidak lain dengan harapan pendidikan dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Beberapa model pendidikan sudah tidak asing lagi bagi seseorang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, dan tidak bisa dipungkiri bahwa Masyarakat dengan pendidikan tidak dapat terpisahkan.

Berikut ini adalah definisi pendidikan, masyarakat dan kebudayaan menurut para ahli pendidikan dan Sosiologi:

Pendidikan itu merupakan kegiatan proses belajar mengajar yang sistem pendidikannya senantiasa berbeda atau berubah-ubah, dari satu masyarakat kepada masyarakat lain, disebabkan masyarakat memiliki sistem sosial, filsafat dan gaya hidup tertentu yang sesuai dengan tujuan dasar maupun nilai-nilai yang terdapat di masyarakat tersebut. (Nazili Saleh Ahmad, 2011 : 3 )

Sedangkan Pendidikan dalam perspektif islam, Didi junaidi (2011:43) mengatakan bahwa Pendidikan itu bersifat multidimansi yang mencakup seluruh aspek kehidupan pribadi dan sosial, dan pendidikan berorientasi pada tiga kecardasan asasi manusia, yaitu Kecerdasan Spiritual (SQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan Intelektual (IQ).

Dan Masyarakat menurut Nazili saleh Ahmad (2011:54) mengatakan Masyarakat itu sekumpulan orang yang saling tolong menolong dalam kehidupannya sesuai dengan sistem yang menentukan berbagai hubungan mereka dengan bagian lainnya dalam rangka merealisasikan tujuan-tujuan tertentu dan menghubungkan mereka dengan sebagian lainnya dengan beberapa ikatan spiritual maupun material.

Terlihat dalam setiap pendapat bahwa ada keterkaitan antara masyarakat dengan pandidikan, Kemudian jika Pendidikan dan Masyarakat tidak dapat terpisahkan, maka Masyarakat pula identik dengan kebudayaan. Dengan demikian pendidikan, masyarakat dan kebudayaan mempunyai relevansi yang kuat atau sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi keberlangsungan hidup manusia. Jiika di atas dikatakan bahwa pendidikan itu menyesuaikan dengan lingkungan masyarakatnya, maka Syamsudin Asyrifi (2011:36) mengatakan bahwa kebudayaan yaitu aneka ragam, tingkah laku, pola pikir, pergaulan dan keseharian dalam yang diterima/diperbuat oleh anggota masyarakat sehingga mereka menjadi berbeda dari masyarakat lainnya. Berlatar belakang fakta keterkaitan antara Pendidikan, Masyarakat dan kebudayaan. Terbesit dalam pikiran peneliti tentang Masyarakat suku baduy yang sengaja mengasingkan diri dari kehidupan luar, terutama penulis prihatin akan kemajuan dan keberlangsungan potensi yang ada didalamnya. Suku Baduy sendiri adalah salah satu etnis yang terdapat di Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan posisi geografis dan administrasifnya berada di sekitar Pegunungan Kendeng di beberapa Desa dikecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pemukimannya biasanya berada di

wilyah lembah bukit, pada daerah-daerah datar dekat sumber air atau sungai. Saat ini asumsi masyarakat umum menganggap bahwa suku Baduy merupakan suku terasing, Asumsi ini tidaklah benar karena mereka bukan terasing, melainkan mereka sendiri yang ingin mengsingkan diri dari segala aktifitas luar. Ade makmur kartawinata (2010,blogger.com) mengatakan bahwa Suku baduy terbagi menjadi dua kelompok suku, yaitu:

1. Baduy dalam (Tangtu)

Yaitu suku baduy yang masyarakatnya sangat kuat, ketat, serta tegas dalam menjalankan amanat leluhurnya, tetapi tetap bernuansa demokratis. Mereka adalah kelompok masyarakat yang dalam kehidupan sehari-harinya tidak mengenal budaya tulisan. Segala yang berhubungan dengan peraturan hukum adat, kisah-kisah nenek moyang dan kepercayaan mereka diturunkan dan diwasiatkan kepada anak cucu mereka secara lisan. Kemudian

2. Baduy luar (Panamping)

Suku baduy luar juga sama seperti suku baduy dalam yang tidak sama selkali mengenal budaya tulisan, seiring berkembangnya pendidikan dan banyaknya yang peduli akan nasib penduduk suku baduy ini, kini masyarakat suku baduy luar mulai mengenal budaya tulisan dan membaca , walau masih dianggap tabu

Kemudian hal lain yang membedakan kedua suku ini, dimana suku baduy luar lebih menerima hal baru dari pendatang, berbeda dengan suku baduy dalam yang masih belum membuka tangan mereka untuk pendatang. Namun kedua suku ini walau berbeda tetap mempunyai aturan dan amanat dari Leluhur mereka yang sama satu suku yaitu suku Baduy, kedua suku ini pun masih taat kepada aturan dan hukum adat mereka.

Segala yang berhubungan dengan hukum adat dan aturan yang Pu’un (kepala adat) tidak ada yang berupa aturan tertulis, melainkan di turunkan dan diwariskan kepada anak dan cucu mereka dengan cara lisan, budaya lisan

sangat mempengaruhi pola dan pemahaman terhadap pendidikan mereka.

Hal inilah yang juga melatar belakangi peneliti untuk membuat penelitian berkaitan dengan model pendidikan yang ada pada masyarakat suku baduy peneliti rasa sangat unik dan perlu lebih dalam untuk mengetahui seperti apa model pendidikan yang digunakan oleh masyarakat suku baduy?.

Ditambah dengan adanya pernyataan kokolot (Tokoh masyarakat) Baduy tentang pendidikan yang belum mengarah pada satu titik kesepahaman apakah memang betul-betul sekolah bagi masyarakat Baduy adalah hal yang sangat ditabukan?. Jika sekolah ditabukan mengapa di antara warga mereka banyak yang mencoba untuk membaca, menulis, dan menghitung sehingga memiliki kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi seperti di suku Baduy luar dan Jika sekolah memang dilarang, mengapa diantara warga mereka yang aktif dan kreatif belajar membaca, menulis dan menghitung secara perorangan tidak diberikan sanksi?. Inilah Hal lain yang menambah keinginan untuk peneliti lebih mengkajinya. Mengingat di jaman yang serba Teknologi saat ini ternyata masih ada masyarakat yang tertinggal bahkan sama sekali tidak mengerti pentingnya pendidikan, teknologi dan informasi yang notabene akan selalu berkembang.

A. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

a. Wilayah Kajian

Wilayah kajian pada penelitian yang dilakukan ini berkaitan dengan Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

b. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan empirik dengan melakukan studi lapangan mengenai model pendidikan yang digunakan oleh suku baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Lewidamar Kabupaten Labak Provinsi Banten.

2. Pembatasan Masalah

Banyaknya model pendidikan yang ada merupakan suatu objek penelitian yang dihadapi, maka pembahasan skripsi ini dibatasi pada masalah model pendidikan yang digunakan oleh suku baduy. Sementara obyek, dibatasi pada masyarakat di Desa Kanekes, Kecamatan Lewidamar Kabupaten Labak Provinsi Banten.

3. Pertanyaan Penelitian

a. Bagaimana Pemahaman Masyarakat Suku Baduy di Desa Kanekes terhadap makna dan arti Pendidikan?.

b. Bagaimana proses pelaksanaan pendidikan masyarakat suku baduy di Desa Kanekes ?

c. Bagaimana hasil proses pelaksanaan pendidikan yang dilakukan masyarakat suku baduy di Desa Kanekes ?

A. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk memperoleh informasi tentang model pendidikan yang digunakan oleh masyarakat suku baduy.

b. Untuk memperoleh data tentang proses penerapan model pendidikan pada Masyarakat suku baduy.

c. Untuk memperoleh data tentang pendidikan masyarakat suku baduy di desa Kanekes.

2. Kegunaan Penelitian

a. Memberikan konstribusi kepada semua pihak khususnya para pemikir dan ahli di dunia pendidikan akan pentingnya peningkatan pendidikan pada masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat khususnya masyarakat suku baduy.

b. Memberikan konstribusi untuk perkembangan dunia pendidikan dengan mengetahui model pendidikan yang digunakan oleh masyarakat suku baduy.

c. Menambah khasanah pemikiran di kalangan mahasiswa khususnya di kalangan mahasiswa dan civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes.

A. Kerangka Pemikiran

Urgensi pendidikan bagi keberlangsungan hidup masyarakat dan pelestarian budaya sangatlah perlu diperhatikan. Sehingga muncul pemikiran para ahli pendidikan dan ahli sosiologi yang memikirkan masalah-masalah pendidikan yang memang sangat kompleks. Iver dan page (1961) mendefinisikan Masyarakat sebagai suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. (Didin saripudin, 2010:19).

Setiap orang atau indevidu pasti membutuhkan orang lain yang kemudian saling bahu membahu, saling membantu, kerja sama yang akhirnya berkelompok, berawal dari hal seperti itulah yang kemudian membuat kelompok dan membentuk komunitas dan dikatakan sebagai masyarakat, setelah terbentuk barulah masalah akan muncul, perbedaan cara pandang, perbedaan prinsif, keyakinan dan masih banyak lagi masalah dalam lingkungan masyarakat.

Sedangkan pendidikan di sebutkan dalam Ketentuan Umum Pasal 1 Undang undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa dan negara. (UU Sispendiknas, 2003: No.20).

Keterkaitan Masyarakat dengan pendidikan dibuktikan kembali dalam Undang undang yang mendefinisikan Pendidikan dengan tujuan sebagai pengendalian untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan agama. Jika tadi dikatakan Masyarakat memiliki masalah yang kompelk maka masalah itupun sebagian dari masalah pendidikan. A. Ahmadi (1987:121) mengatakan bahwa permasalahan pendidikan itu meliputi (1) Pendidikan Kemanusiaan (2) Pendidikan dan Keluarga (3) Pendidikan dan Program Keluarga Berencana (KB).

Masyarakat mengalami perubahan sosial yang cepat. Perubahan sosial menimbulkan cultullag. Culturallag merupakan “sumber” masalah-masalah sosial yang dialami dunia pendidikan, para ahli sosiologi menyumbangkan pemikirannya untuk memecahkan masalah tersebut, hingga lahirlah sosiologi pendidikan. (Abdullah idi, 2011:7)

Dengan demikian sudah tidak diragukan lagi bahwa masih banyak permasalahan yang ada dalam hubungan Masyarakat dengan Pendidikan, dengan terbukti masih adanya kelompok masyarakat yang masih belum sadar akan pentignya pendidikan bahkan tak mengenal apa itu pendidikan. Padahal dalam kehidupannya masyarakat tidak lepas dari nilai-nilai pendidikan. Sosiologi pendidikan mempersoalkan pertemuan dan percampuran dari lingkungan sekitar kebudayaan sedemikian rupa sehingga terbentuknya prilaku tertentu dan sekolah atau lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural millieu. (Abdullah idi:2011:25)

Dikatakan bahwa Pendidikan itu Total cultural milleu (Lingkungan kebudayaan yang menyeluruh) separti yang penulis jelaskan diatas bahwa pendidikan sangat erat kaitannya dengan Masyarakat dan kebudayaan. Sebagian kalangan mungkin sudah mengetahui mengenai Masyarakat dan budaya suk badui yang sengaja mengasingkan diri. Masyarakat suku badui juga merupakan sebagian kelompok masyarakat yang berhak atas pendidikan, akan tetapi mungkin apa yang dilakukan suku badui menambah deretan panjang permasalahan pendidikan dan masyarakat. Karena pola pikir masyarakat badui masih patuh dan taat pada aturan adat dan tradisi yang menolak pemikiran atau cara hidup masyarakat luar (umum), sehingga jika masyarakat umum merasa penting akan pendidikan lain dengan masyarakat suku badui yang seolah-olah merasa tidak peduli dengan pendidikan khususnya pendidikan formal.

Masyarakat yang mengekang perkembangan kebudayaan dan pendidikan, maka akan lenyaplah sebagian besar potensi dan berbagai kemungkinan dari sebagian masyarakat itu sendiri. (Nazili shaleh ahmad. 2011:33). Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian bagi anggota masyarakat, khususnya dalam penelitian ini masyarakat suku baduy.

Sebagian kalangan mungkin sudah ada yang mengetahui bahwa ternyata masyarakat suku badui mulai terbuka dengan pendidikan, namun yang perlu di perhatikan adalah bagaimana pendidikan dapat berjalan tanpa melanggar aturan dan hukum adat suku baduy. Jelas ini suatu masalah pendidikan dan masyarakat yang perlu kajian lebih mendalam lagi.

Tapi secara tidak sadar Masyarakat suku baduy sebenarnya sudah melakukan pendidikan, terbukti dengan mereka dapat hidup sejahtera, saling bertoleransi, harmonis dan mempunyai berbagai keahlian. Tidak lain semua itu timbul berkat suatu proses yang bernama Pendidikan, seperti yang dikatakan A.Ahmadi (1987:225) bahwa Tujuan utama dalam pendidikan ialah manusia yang berbudi tinggi, tidak hanya manusia yang trdidik otaknya karena kecerdasan otak bukanlah yang terpenting atau tujuan pendidikan tidak intelektualis, melainkan harmonis.

Pendidikan sendidri ada tiga macam, Informal, formal dan non formal. Pendidikan yang sudah ada dan berlangsung secara tidak sadar di Masyarakat suku baduy termasuk pada kategori Non formal, pendidikan non formal yang di definisikan Ahmad fiqri (2009:Blogger.com) bahwa suatu pendidikan yang tidak mengenal jenjang, yang terjadi secara sadar dan tidak sadar yang dapat merubah sifat, keahlian, potensi seseorang.

A. Metodologi Penelitian

1. Menentukan Sumber Data

a. Data Teoritik

Data teoritik diperoleh dari sejumlah buku bacaan yang menjelaskan tentang pendidikan, masyarakat, budaya suku baduy dan buku-buku lain yang memiliki relevansi dengan pembahasan tentang model pendidikan suku baduy, selain buku data juga diperoleh dari media lain seperti majalah, surat kabar, dan lain-lain.

b. Data Empiris

Data empirik diambil dari sumber data yang ada pada objek penelitian, seperti pakar sejarah dan budaya suku baduy (Budayawan), Pakar pendidikan , Pu’un (kepala suku) baduy, dan kokolot ( tokoh masyarakat ) suku baduy, aparat desa dan masyarakat suku baduy yang menjadi sampel penelitian.

2. Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi penelitian ini adalah penduduk Desa kanekes ( usia 17 – 40 tahun ) yang sudah menerima akan pentingnya pendidikan, penduduk desa Kanekes sendiri berdasarkan data berjumlah 246 jiwa , dengan kategori 113 orangh penduduk berjenis kelamin Wanita dan 133 orang penduduk berjenis kelamin Laki-laki. ( Sumber data; Wikipedia )

b. Sampel

Berdasarkan Populasi penduduk desa Kanekes adapun sampel yang diambil sebanyak 15 % dengan tehnik pengambilan sampel secara acak (Random Sampling). Jadi Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 37 orang, yang terdiri dari 18 orang penduduk wanita dan 18 orang penduduk Laki-laki.

1. Teknik pengumpulan data

a. Observasi

Pada penelitian ini Observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung pada objek penelitian, yaitu masyarakat di desa Kanekes kecamatan lewidamar kabupaten lebak Provinsi Banten, teknik ini dilakukan untuk mengetahui dan mengamati secara langsung proses pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat suku baduy.

b. Interview

Teknik interview yaitu melakan wawancara secara langsung dengan beberapa responden yang dijadikan Sampel penelitian dan menjadi sumber dalam perolehan data, yaitu pakar sejarah dan budaya (Budayawan), Pakar pendidikan, Pu’un (kepala suku) baduy, kokolot ( tokoh masyarakat ) suku baduy, aparat desa dan masyarakat suku baduy yang menjadi sampel penelitian.

c. Studi Dokumentasi

Teknik studi dokumentasi ini dilakukan dengan cara menggunakan sember data berupa gambar dan data tertulis dari sumber yang relavan yang ada pada objek penelitian, terutama menyangkut potensi desa secara umum.

d. Penyebaran Angket

Mengingat populasi objek penelitian yang belum mengenal budaya tulisan maka teknik penyebaran angket akan dilakukan dengan cara membacakannya kepada responden untuk menjaring data mengenai Model Pendidikan yang digunakan.

1. Teknik Analisis data

Karena penelitian ini permasalahannya itu untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena dan bermaksud menjelaskan dan menerangkan masalah dengan demikian penelitian ini menggunakan satu variabel maka analisis data yang digunakan prosentase dengan rumus :

P = F / n x 100 %

P = Prosentase

F = Frekuensi

n = Jumlah responden

Kemudian untuk membuat kesimpulan terlebih dahulu akan dibuat rekapitulasi angket, setelah menemukan prosentasinya, kemudian dikonsultasikan pada penafsiran menurut suharsimi Arikunto, dalam bukunya metode penelitian Prof. Dr. Khaerul Wahidin, MA (2003:115) sebagai berikut :

a. 79 % - 100 % = baik

b. 56 % - 78 % = cukup baik

c. 40 % - 55 % = kurang baik

d. Kurang 40 % = tidak baik


Your Reply

Mengenai Saya

Foto saya
Brebes, Jawa tengah, Indonesia
sweet cool kinds diligent heheheh